Januari dalam tarian tinta



Cerita pejalan- Januari dalam tarian tinta. 

Januari telah tiba, tetapi aku masih saja seperti biasa, hanya menulis, tidur dan berjalan entah kemana tujuan, tidak ada pekerjaan lain setiap harinya, sedangkan pengeluaranku cukup besar dalam satu hari, sebab aku seorang perokok yang menghabiskan 2 bungkus rokok dalam 24 jam, aku juga seorang pecandu kopi, dan yang paling menjadi kebutuhan adalah kuota, aku bisa menghabiskan 2GB dalam satu hari untuk sosial media. 

Aku juga terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, dan semua kebutuhanku tidak mungkin ditanggung oleh keluargaku, sebab aku sudah dewasa dan seharusnya aku sudah bisa menjadi tulang punggung keluarga. Dulunya juga aku sempat kerja rutin, tetapi sekarang sudah tidak, sebab hidupku ambigu dan kepuasan jiwa yang paling aku utamakan dalam hidup.

Seperti yang sebelumnya kutuliskan, aku bermimpi ingin menjadi garis cakrawala di gigir samudera, itu mimpiku saat ini, dulunya? tidak!

Menurutku setiap orang itu harus mempunyai mimpi, dan mempunyai harapan setiap harinya.

Aku seorang yang sangat tegar bagiku, seseorang yang sangat ambigu dan juga seseorang yang sangat tidak mempunyai tujuan hidup menurut pandangan orang lain. Muak dengan perkataan orang-orang hingga akhirnya aku memutuskan untuk menutup telingaku dan tidak menjadikan telingaku sebagai alat perekam suara yang tidak penting. 

Dan sekarang, guruku adalah buku, setiap harinya aku menghabiskn waktu dengan buku, banyak sekali buku yang aku baca, dan buku lah yang tidak pernah mencela dan mematahkanku. Begitu rumitnya hidupku bukan ?. Dengan hidup seperti ini aku mempunyai kepuasan jiwa tersendiri, setidaknya aku tidak seperti diikat oleh orang lain. 

Pernah ada seseorang yang mengikuti hidupku, tetapi ia kalah dengan arah dan perjuangan untuk hidup ini. Dan sekarang orang-orang tidak bisa lagi membuatkanku tempat, aku bersaing dengan guru dan bayanganku sendiri. 

Tegar, tetapi aku begitu kalah dengan perasaan dan cinta.
Tidak bisa dipungkiri, orang-orang yang setara umurnya denganku pasti sudah mengenal cinta dan perasaan. Mempunyai pasangan sama halnya mempunyai keyakinan tentang kebahagiaan total manusia yang ditimbah dari sumur sejenis kebenaran unggul.

Beberapa bulan yang lalu aku mempunyai pasangan, kami begitu saling mencintai, tapi dulu, sekarang mungkin tidak. Dia seorang mahasiswi di salah satu universitas ternama di kota tempatku tinggal, dan bagiku dia mempunyai otak yang begitu pintar, dengan kehidupan yang teratur dan juga bermakna. Sangat jauh sekali perbedaan nya denganku.

Bukan hanya satu atau dua orang yang mengatakan bahwasanya kami sangat cocok, saling mempunyai idealisme tersendiri, tetapi itu sangat tidak masuk akal bagiku, dengan setiap harinya ada saja hal yang membuat perdebatan muncul akankah kami hidup bahagia dan tentram nantinya? 

Mereka hanya bisa melihat dan memahami pagar kami, mereka tidak bakal pernah memahami pohon kehidupan kami yang sesungguhnya. Seperti apa pertumbuhan batangnya, daunnya, rantingnya, bunganya bahkan akarnya sekalipun.

Kami memiliki rahasia-rahasia yang kadang kami sendiri tidak memahaminya. Kami menyerupai lukisan satu aliran dengan teknik penggarapan yang berbeda, dan kalau perjalanan itu kami bicarakan lagi, kami berdua akan terdiam, mata kami akan dilukis oleh aliran sungai penuh warna-warna ekpresif. 

Kami berpisah karena ada garis kehidupan yang tidak berpihak diantara kami, bukan kesalahan satu sama lain.

Pasanganku yang dulunya juga seorang yang sangat pandai merangkai sajak, dalam fikirku jika kami betul-betul menjadi pasangan halal nantinya kami akan berebut kata-kata di bawah bantal. Bahkan bisa jadi ranjang kami justru tidak mempertemukan tubuh, tetapi huruf-huruf, 

Menurut imajinasiku hubungan kami seperti ilustrasi sajak-sajak romantik yang dibuat para pujangga abad ke 15. Tetapi begitu sayangnya, garis kehidupan tidak berpihak kepada kami, kami diizinkan untuk berpisah dan mencari kebahagiaan masing-masing.

Saat perdebatan dan emosi meningkat, diriku memutuskan untuk pergi dari kehidupannya, sebab aku ingin menjadi seseorang yang berguna untuk negeri ini, bukan hanya berfikir mengenai perasaan dan menghadapi perdebatan yang tidak berguna saja setiap harinya. Sekarang, hari demi hari telah kami lewati dengan kehidupan tersendiri, dan memang sangat betul bahwa emosi hanya membawa hidup menuju kegelapan.

Kami tidak saling ingin mengusik, dan kami juga masih satu kontak sosial media. Hampir setiap harinya aku membaca sajak yang ia buat dan publikasikan itu semua tentangku, dan itu mengingatkan semuanya pada kebahagiaan yang dulu pernah berpihak kepada kami, walaupun kebahagiaan itu ditengahi oleh perdebatan-perdebatan yang tidak bermakna. 

Rasa ingin kembali begitu besar, akan tetapi semuanya bertumburan dengan kekecewaan yang pernah dirasakan, dan muncul lah satu kebimbangan yang mendalam. Sekarang hanya satu yang terlintas dalam fikir ambiguku, awal itu adalah pembelajaran, dan isi itu adalah perubahan, Jika ia ingin berubah dan aku ingin berubah kami akan kembali, tetapi jika tidak kami akan tetap berdiri di masing-masing kehidupan. 

Satu yang tidak pernah aku sukai darinya, dia terlalu membuat hubungan seperti permainan anak belia, seperti ajang percobaan pada umumnya, Dan bagiku, hubungan yang baik mempunyai garis pandang yang baik pula, bukan menjadikan hubungan tersebut seperti ajang percobaan. Berusaha untuk menjadi yang terbaik dan memahami arti sebuah kehidupan itu sangat penting dalam setiap kali menjalankan hubungan. 

Sekarang, aku akan tetap berterimakasih kepadanya, karena tidak ada yang salah diantara kami, dan perpisahan itu bukan sepenuhnya tentang kesalahan ,tetapi tentang garis kehidupan. Garis kehidupan yang pernah ku tulis dalam sajak singkat "Cahaya itu terus berjalan, dengan kesabaran waktu yang mengikuti, Cahaya itu terpaku pada ujung pandang penuh mimpi, berjalan terus tanpa henti, garis yang dibalut dengan angka dan cerita. Hingga akhirnya cahaya itu berhenti karena telah redup dan harus kembali. Cahaya itu Garis Kehidupan duniawi".

Dengan mengingat masa lalu, inspirasiku selalu kacau dan karyaku akan tidak bermunculan, sebab aku begitu kalah dengan sebuah perasaan. Waktuku masih sangat panjang jika ajal belum menjemputku, karyaku dikit demi sedikit telah bermunculan, Entah disukai oleh orang lain atau tidak, tetapi aku tidak akan pernah berhenti dalam berkarya. 

Bahagiaku seperti ini, kepuasanku tidak akan pernah ada yang dapat mengukurnya, sebab kebahagiaanku tidak mempunyai kapasitas, dan tidak mempunyai bentuk atau standarisasinya. 

Tidak akan pernah ada nominal disetiap kebahagiaanku, dan tidak akan pernah ada yang dapat mengerti arah langkah hidupku dalam perjuangan untuk negeri.

Januari

Komentar

  1. Makna tidak perlu menjelaskan sebuah arti, tapi setiap arti pasti menjelaskan sebuah makna.

    Luar biasa, jangan berhenti untuk berkarya ding !

    BalasHapus
  2. Makna tidak perlu menjelaskan sebuah arti, tapi setiap arti pasti menjelaskan sebuah makna.

    Luar biasa, jangan berhenti untuk berkarya ding !

    BalasHapus
  3. Bagus kak...
    Semoga bisa menginspirasi 😊

    BalasHapus
  4. Slots - MrCD
    Find the best online 충청북도 출장안마 slot games and win real money! We 천안 출장마사지 have hundreds of casinos offering the best slots in the US 서울특별 출장마사지 with over 1300+ slots and 정읍 출장안마 casino 청주 출장마사지 games available to

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menolak lupa "sexy killers"

"Dalam satu waktu"

"Hidup dan Akibat"